Sri Mulyani jadi Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

Forbes Sri MulyaniSri Mulyani Indrawati untuk ketiga kalinya masuk dalam 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi Forbes

JAKARTA – Popularitas Sri Mulyani di mata internasional semakin moncer. Mantan menteri keuangan Indonesia itu kembali masuk dalam jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia. Tahun ini adalah kali ketiga direktur pelaksana World Bank itu disejajarkan majalah Forbes masuk dalam daftar 100 perempuan paling powerful.

Pejabat Bank Dunia kelahiran 24 Agustus 2011 (seharusnya 26 Agustus 1962: blog) tersebut menduduki peringkat ke-65. Sebelumnya, dia masuk dalam daftar yang sama pada 2008 (peringkat ke-23) dan 2009 (ke-71). Dua tahun lalu, Sri Mulyani bahkan mengalahkan posisi Hillary R. Clinton yang saat itu menjadi senator AS, yakni di urutan ke-28.

Pada 2010, Forbes sama sekali tidak memasukkan nama perempuan yang diajukan sebagai calon presiden RI 2014 tersebut dalam daftar perempuan powerful. Namun, CNN memilih Mbak Ani, sapaan Sri Mulyani, dalam daftar tiga perempuan paling berpengaruh di Asia 2010.

Tahun ini, perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung, tersebut juga masuk dalam daftar 13 perempuan Asia di daftar bergengsi tersebut. “Sri Mulyani berhasil memotong utang negara menjadi setengahnya. Dia juga sukses meningkatkan cadangan devisa Indonesia menjadi lebih dari USD 50 miliar,” tulis analisis Forbes sebagaimana dilansir AFP kemarin.

Saat menjabat menteri keuangan, Ani juga dianggap sukses menerapkan kebijakan gaji yang lebih tinggi bagi pegawai negeri untuk mencegah mereka menerima suap. “Sri Mulyani juga menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberikan insentif pajak bagi para pelaku usaha,” beber rilis Forbes.

Selain itu, mantan direktur IMF Asia tersebut dipuji atas keberhasilannya menjadikan kementerian keuangan sebagai institusi pemerintah dengan tingkat korupsi paling rendah.

Selain Ani, sebagian besar perempuan hebat yang dipilih Forbes tahun ini memang berasal dari kalangan pebisnis dan miliuner, yakni mencapai 49 orang. Sisanya dipilih dari kalangan politisi.

Nama beberapa selebriti perempuan juga masuk daftar powerful woman karena memberikan kontribusi besar bagi kemanusiaan. Tahun ini, Kanselir Jerman Angela Merkel, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, dan Presiden Brazil Dilma Rousseff menduduki posisi tiga teratas dalam daftar 100 perempuan paling berpengaruh versi Forbes.

Disusul Indra Nooyi, chief executive PepsiCo, dan Sheryl Sandberg, COO Facebook. Melinda Gates, co-founder Cochair Bill dan Melinda Gates Foundation, menyusul di urutan keenam. Kemudian, ada Sonia Gandhi, ketua Partai Kongres Nasional India.

Michelle Obama, istri Presiden AS Barack Obama, menduduki posisi kedelapan disusul direktur pelaksana IMF yang baru, Christine Lagarde. Penyanyi nyentrik Lady Gaga menduduki posisi ke-11, mengalahkan pembawa acara kondang AS Oprah Winfrey di peringkat ke-14.

Selain itu, tahun ini, Forbes memasukkan pejabat-pejabat perusahaan di bidang teknologi seperti SVP Google Susan Wojcicki yang menduduki peringkat ke-16 dan CEO Yahoo! Carol Bartz di peringkat ke-37. VP International Strategy Twitter Katie Jacobs Stanton juga masuk dalam peringkat, yakni ke-56.

PM Thailand yang baru terpilih, Yingluck Shinawatra, bertengger di posisi ke-59. Sementara itu, penulis novel J.K. Rowling berada empat posisi di atas Sri Mulyani, yakni peringkat ke-61. Pemimpin demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi juga masuk dalam daftar.

“Daftar ini akan memberikan inspirasi ketika melihat apa yang sudah dilakukan dan mendengarkan kisah hidup beberapa tokoh tersebut,” kata Chana Schoenberger, editor Forbes, dalam sebuah wawancara sebagaimana dikutip dari AP. (AP/AFP/CNN/c5/iro)

Iklan

pengalaman malam minggu di SMS..

seperti biasa,malam minggu saya habiskan di downtown walk sumarecon mal serpong..tapi malam ini[19-6-11] ada yg berbeda dr biasanya… sengaja malam ini saya memakai kaos kebesaran saya 2014 untuk SRI MULYANI plus blangkon di kepala saya dan selendang dr tenun ikat timor..saya tiba di downtown pukul 00.30 band sedang memainkan lagu2 rock klasik spt biasanya..semua kursi terisi penuh.. sengaja saya mencari kursi tepat di depan panggung dan berputar-putar kurang lebih 10menit sehingga semua mata melihat ke arah saya terutama kaos yg saya pake…cukup utk membuat mereka tau ttg pesan yg ingin saya sampaikan lewat kaos saya..    akhirnya setelah mendapatkan kursi akhirnya saya duduk sebentar bersama 2 org teman saya..saya mulai berkeliling area downtown utk membagikan stiker..anda yg sudah pernah ke downtown sumarecon mal pasti bisa membayangkan betapa ramainya tempat ini saat malam minggu….saya datangi meja pertama yg tdk jauh dr tempat saya…dan ini yg membuat saya merinding,meja itu kurang lebih berisi 12 org…[beberapa meja di sambung] saat melihat saya mereka semua tersenyum dan saat stiker saya bagikan serempak mereka mengacungkan jempol dan berkata..” sri mulyani nyapres..?? mantap..kami dukung…” apa nama partainya..?? saya jelaskan dgn agak teriak krn musik yg musik dr band cukup keras….

setelah itu saya lanjut di meja sebelah..3 orang ibu muda berjilbab dgn antusias menerima stiker yg saya bagikan sambil berkata…dr partai demokrat…?? saya jawab sambil menunjuk SRI pd stiker..beliau menjawab,” bagus mas..saya dukung..orang pintar yg jujur…”” setelah berkeliling area downtown saya kembali ke meja saya ,saat saya liat di samping saya seorang pria sedang menikmati suasana bersama teman nya…saya dekati..saya beri stiker..beliau tersenyum.. saya tambahkan pin serta buku kuliahh umum SMI..obrolan singkat..jadilah beliau teman fb saya…dan bergabung di grup SMI K jakarta. malam minggu yg dahsyat..semua krn SMI…

Catatan: utk SMIKers, selalu bagikan pengalaman berkesan terkait dg Sri Mulyani Indrawati ke grup-grup SMI Keadilan atau blog ini. tks

PETISI DUKUNG KPK & SERUAN PENYELAMATAN BANGSA

sejumlah tokoh berintegritas menyampaikan Petisi Dukungan kepada KPK serta seruan penyelamatan bangsa dari bahaya serangan balik para koruptor.

smi presidenku

Bahwa semakin jelas ada upaya-upaya sistematis menghancurkan KPK beserta seluruh unsurnya.

Bahwa semakin jelas ada pertalian dan kejahatan kolektif yang dilakukan justru oleh para pemimpin politik yang seharusnya melindungi negara dan bangsa. Pemimpin politik secara demonstratif menunjukkan keberpihakan kepada para koruptor yang nyata-nyata telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan rakyat indonesia.

Bahwa fakta-fakta menunjukkan para pemimpin politik menggunakan kekuasaannya untuk menyalahgunakan APBN untuk kepentingan diri dan kelompoknya, bukan untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bahwa semakin nyata sejumlah politisi dan pihak melakukan pemufakatan dan konspirasi jahat untuk menghancurkan KPK yang notabene merupakan salah satu lembaga penegak hukum yang kredibel dan masih memberikan harapan pada upaya pemberantasan korupsi.

Bahwa kita semua memahami, korupsilah penyebab kehancuran negara dan bangsa. Korupsi menjadi penghalang besar penunaian janji kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam naskah Pembukaan UUD 1945.

Mengimbau seluruh warga bangsa untuk tidak mudah terhasut politik adu domba para koruptor, yang dengan segala cara berusaha menutupi kebanaran dan menyebar fitnah.

Kepada para tokoh masyarakat, tokoh mahasiswa, tokoh intelektual, tokoh perempuan dan tokoh agama, kami imbau untuk menyatukan langkah membendung serangan balik para koruptor yang telah menyulap diri hadir seolah-olah menjadi bagian dari kita.

Meminta kepada Presiden dan seluruh pemimpin politik, untuk hadir di tengah masyarakat mengambil tindakan nyata menyelesaikan permasalahan rakyat yang kian hari kian dihimpit oleh carut marut ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Kepada Presiden Republik Indonesia, kami memberikan dukungan keberanian untuk melakukan langkah-langkah aktif dan nyata, menggunakan kewenangan tertinggi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, serta sebagai pemegang mandat Rakyat Indonesia, untuk melindungi negara dan warga bangsa:

* Dari serangan balik para koruptor,
* Dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan dasar rakyat banyak,
* Dari pemiskinan terstruktur karena penguasaan sumberdaya ekonomi oleh segelintir kelompok,
* Dari ketidakpastian hukum dan penegakan hukum yang tidak adil,
* Dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil atas dasar kepentingan politik jangka pendek.

Anies Baswedan; Anita Wahid; Bambang Widodo Umar; Betti S. Alisjahbana ; Burhan Muhtadi; Danang Widoyoko; Eep Saefulloh Fattah; Eddy Swandi Hamid; Endriartono Sutarto; Erry R. Hardjapamekas; Faisal Basri; Hamid Chalid; Ikrar Nusa Bakthi; Imam Prasodjo; Komaruddin Hidayat; M. Ichsan Loulembah; Mas Achmad Santosa; Monica Tanuhandaru; Natalia Soebagjo; Ratih Sanggarwati; Rhenald Kasali; Saldi Isra; Teten Masduki; Atika Makarim; Todung Mulya Lubis; Yenni Wahid; Yunarto Wijaya; Zainal Arifin Muchtar; Zumrotin K. Susilo.

Sumber: Posting Erry Riyana Hardjapamengkas di grup SMI Keadilan. Foto: http://www.mediaindonesia.com/

Berlomba Menawarkan Calon Presiden

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti *)

Pemilihan umum masih tiga tahun lagi, namun partai-partai politik sudah mulai mengelus-elus siapa yang akan mereka jagokan. Partai Golkar misalnya sudah mulai menawarkan nama ketua umum,Aburizal Bakrie, sebagai bakal calon presiden yang diusung partai berlambang beringin itu.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), meski belum secara resmi mengumumkan siapa bakal calon presiden, ada kadernya yang sudah menyebut Menkopolhukam Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto sebagai bakal calon yang diusung PKS.

Ada Hatta Rajasa yang akan didukung Partai Amanat Nasional, Wiranto yang didukung Hanura, Prabowo Subianto yang didukung Gerindra,atau Puan Maharani yang didukung oleh PDIP. Nama lain yang juga sering disebut ialah Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD sebagai bakal calon presiden yang cukup memiliki prospek.

Sampai saat ini belum ada partai yang secara resmi mendukung Mahfud MD. Namun, bukan mustahil ia akan disandingkan oleh Partai Demokrat dengan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo yang kini Kepala Staf TNI AD.

Sampai kini belum juga tertutup kemungkinan Partai Demokrat akan mengusung Ibu Negara Kristiani Yudhoyono sebagai bakal calon presiden walaupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara tegas telah mengenyampingkan kemungkinan tersebut.

Bisa saja PDIP dan Partai Demokrat melakukan ”rekonsiliasi politik” dengan menyandingkan Pramono Edhie Wibowo dan Puan Maharani sebagai capres dan cawapres, atau dua besan saling bersanding secara politik yaitu antara Hatta Rajasa dan Kristiani Yudhoyono.

Di luar nama-nama itu,ada satu nama yang kini semakin berkibar, yakni mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang diusung oleh kelompok intelektual yang baru saja mendaftarkan partainya, Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI). Banyak kalangan yang belum apa-apa sudah memandang remeh kemungkinan pencalonan Sri Mulyani yang biasa dipanggil Ani.

Pasalnya, Partai SRI masih berjuang untuk lolos kualifikasi sebagai partai politik. Selain itu, Sri Mulyani juga masih belum terbebas dari kasus bailout Bank Century. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri hingga kini masih dalam posisi bahwa tidak ada tanda-tanda kriminalitas yang dilakukan baik oleh mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono maupun mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Semua calon presiden tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing.Sebagian besar kelompok menengah ke atas di Indonesia juga sudah mengetahui rekam jejak para bakal calon presiden tersebut. Pembentukan partai baru, semisal Partai SRI, Partai Nasional Demokrat, atau lainnya, memang bukan sesuatu yang baru di republik ini.

Orang sering mempertanyakan mengapa masih ada orang membikin partai di tengah semakin rendahnya citra partai politik di mata masyarakat. Orang juga sering mencemooh bahwa partai-partai baru itu hanyalah mainan para politisi lama yang berpindah dari partai lain atau gagal di partai sebelumnya.

Namun, dalam kasus Partai SRI tampaknya agak berbeda. Partai ini didirikan oleh gabungan dari kalangan intelektual kampus, praktisi hukum, pemilik media, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat yang resah dengan situasi politik di negeri ini. Mereka memang kelompok elite yang masih memiliki keinginan untuk membangun negeri ini.

Jika dilihat dari latar belakang mereka, dari segi ekonomi, para pendiri Partai SRI sebagian besar adalah kelompok masyarakat yang sudah mapan dan bukan orang yang akan mencari makan dengan mendirikan partai.

Seperti dikatakan anggota Dewan Pertimbangan Partai SRI,Arbi Sanit, rekrutmen calon pengurus partai pada tingkat pusat dan daerah benarbenar dilakukan secara ketat. Sebagian besar pendiri atau pendukung Partai SRI adalah kalangan pengajar di Universitas Indonesia atau alumninya.

Mereka berasal dari kelompok ideologi yang beragam, ada yang sosialis kanan (soska) atau garis Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sutan Syahrir, ada yang liberal demokrat, ada pula yang Soekarnois. Makanya agak sulit jika mereka semua dikatakan sebagai golongan neoliberal (neolib).

Sri Mulyani yang mereka dukung sebagai bakal calon presiden juga sulit dikatakan sebagai neolib murni,karena dalam pemikirannya juga tersimpul pemikiran mengenai pentingnya negara dalam mengatur ekonomi nasional.

Sri juga berasal dari kalangan keluarga yang secara ideologis juga dekat dengan nasionalismenya Bung Karno,khususnya PNI. Isu yang berkembang untuk mendiskreditkan Sri Mulyani bukan saja terkait dengan soal Bank Century atau segala yang terkait dengan pajak, melainkan juga bahwa ia akan menjadi kaki tangan Amerika Serikat (AS).

Pesan singkat yang beredar melalui ponsel antara lain menyatakan sesuatu yang absurd antara lain Sri Mulyani akan didukung AS dan ada dealdeal politiknya jika ia terpilih. Padahal, Sri Mulyani pastinya akan memiliki ketegasan untuk mengatakan tidak kepada AS karena dia bukan pengusaha dan bukan orang yang posisinya bergantung negara itu.

Bahkan bukan mustahil ia akan lebih berani daripada Jenderal Besar Soeharto dan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono untuk tidak mau didikte oleh AS dalam bidang politik, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.

Pemahamannya di bidang moneter sebagai mantan direktur kawasan Asia-Pasifik di International Monetary Fund (IMF) dan kini sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia tentu membuatnya tahu persis bagaimana menentukan posisi Indonesia vis-à-vis IMF dan Bank Dunia.

Sri tentunya juga tidak akan munafik untuk mengatakan apakah IMF atau Bank Dunia diperlukan atau tidak oleh Indonesia, seperti elite politik yang selalu menyatakan anti-IMF padahal ketika ia menjadi menteri dulu ia pernah meminta bantuan IMF untuk Indonesia.

Seperti kebanyakan kalangan intelektual, tentunya ada titik lemah, tapi sekaligus kekuatan Sri Mulyani. Misalnya, seorang intelektual karena otoritas keilmuannya biasanya memiliki ”kesombongan intelektual” dan merasa lebih tahu ketimbang orang lain. Intelektual juga selalu berpikir dan bertindak lurus sesuai etika keilmuannya.

Ini berbeda dengan kalangan politisi yang bisa berzig-zag dalam pikiran dan tindakan politiknya. Jika kita membaca tulisan Sri Mulyani mengenai transisi politik dan ekonomi di Indonesia, tampak jelas dia adalah bakal calon presiden yang paling memiliki keduanya, yaitu kemampuan akademik sebagai seorang intelektual kampus dan pengalamannya di pemerintahan.

Sri juga bukan futurolog yang suka tebar pesona dan bicara mengenai masa depan ekonomi Indonesia, tapi tidak berpijak di bumi seperti penguasa Indonesia saat ini. Artikel Sri Mulyani paling akhir yang dimuat media massa dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa ia bukan seorang ekonom yang menggunakan kacamata kuda, melainkan seorang ekonom yang juga tahu mengenai situasi politik internasional kini dan masa depan.

Pastinya akan banyak kalangan yang ingin menghadang Sri Mulyani.Semua terpulang pada apakah para pemilih Indonesia pada 2014 mendatang benar-benar semakin dewasa dalam memilih sehingga tidak salah dalam memilih presiden ataukah politik uang dan manipulasi pencitraan politik akan mengalahkan akal sehat pemilih.

*) IKRAR NUSA BHAKTI Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI.

Sumber: Harian Seputar Indonesia, Tuesday, 09 August 2011.

Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/419343/

Partai SRI sbg penggagas & pengusung pencapresan Sri Mulyani Indrawati.

MEMBONGKAR KOTAK ISU POLITISASI HITAM

SMI for President

Deraan kampanye hitam selalu menyerbu SMI, tetapi kalangan intelektual selalu mampu melihat masalah dengan jernih. Mereka umumnya tetap kagum pada kualitas & integritas SMI

Oleh: Albert WS Kusen*)

Dalam buku menjalankan negara dengan konstitusi yang diterbitkan oleh Megawati Institute (http://www.deptan.go.id/kln/pdf/iccsr.pdf), mengungkapkan keberadaan sosok Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai salah tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah pembangunan ekonomi di Indonesia sejak pasca reformasi.

Akan tetapi, ketokohannya sebagai ekonom maupun sebagai teknokrat selama memangku jabatan sebagai menkeu, diterpa isu ‘miring’ yang kini seakan telah menjadi stigma negatif terhadap diri pribadi SMI. Dalam National Economic, Environment and Development Study (NEEDS)  for Climate Change  Indonesia Country Study  FINAL REPORT December 2009 (Aam St Iskandar: 09 Februari jam 1:58), diungkapkan oleh Justiani / Liem Siok Lan / Penasihat Thaksin (PM Thailand): “Sri Mulyani jadi sales promotion girl-nya (SPG) IMF, karena mendapat fee 1% (satu persen) dari setiap pinjaman. Jadi, jangan heran, kalau ekonomi kita terus ditentukan pihak asing”.

Catatan ini secara progresif kontekstual (lihat Vayda 1987), coba mengklarifikasi secara akal sehat (the mode of logic) apa yang dituduhkan oleh panasehat PM Thailand Taksin, di mana SMI sesumbar dianggap sebagai sales promotion girl-nya IMF meraup keuntungan satu persen dari setiap bantuan alias pinjaman IMF kepada Indonesia (pada saat LoI utang US$ 10,14 Miliar IMF kepada Indonesia= berarti SMI meraub US $ 114 juta x rp 10.000= ? fee-nya?).

Pertanyaannya, benarkah SMI meraub fee satu persen dari setiap pinjaman IMF kepada Indonesia? Kalau benar, dapat diasumsikan bahwa SMI adalah manusia paling kaya di Indonesia (silahkan hitung berapa jumlah rupiah atau dollar diraub oleh SMI setiap 1% dari total jumlah hutang IMF selama SMI menjadi promotion girl-nya IMF di Indonesia?). Implikasinya, fee yang dikategorikan sebagai bagian dari tindakan korupsi (suap) terselubung yang masuk dalam ATM-nya, berarti juga SMI secara global dapat diberi gelar sebagai the queen of corrupt in the world?

Membongkar Kotak Isu Politisasi Hitam 

Yang dimaksud politisasi hitam adalah pencitraan negatif yang dikenakan pada seseorang (figur tertentu) yang kebetulan ditengarai akan bertarung dalam suksesi (presiden, guburnur/bupati/ walikota atau jabatan-jabatan strategis lainnya), mengalami atau diterpa isu miring berkenaan dengan kasus atau skandal tindakan amoral (korupsi dan perbuatan asusila) yang distigmatisasi kepada dirinya, meskipun secara juridis belum tentu isu miring tersebut ‘benar’.

Klarifikasi Dimensi Ruang dan Waktu Peran SMI: Bantuan IMF untuk Indonesia

Pertanyaan ke 1, Sejak kapan Sri Mulyani menjadi SPG-nya IMF? Seperti diketahui bahwa Kerjasama RI-IMF dimulai sejak th. 1962 kebetulan Sri Mulyani lahir tahun 1962. Mengingat IMF agak mungkin memilih bayi yg baru lahir sebagai SPG-nya.

Pertanyaan-2 : “Siapakah SPG-nya IMF dari tahun 1963 – 1965 (masa Presiden Soekarno)?

Pertanyaan-3 : “Siapakah SPG-nya IMF dari tahun 1966 – 1996 (Orba – sebelum krismon) ?” Inilah sebagian jabatan Sri Mulyani pada periode orde baru): 1) Asisten Pengajar FEUI; 1985 – 1986, 2) Pengajar Program S1, Extension FEUI, S2, S3, MM-UI; 1986 – Sekarang, 3) Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA; 1990 – 1992, 4) Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS; 1994 – 1995, 5) Anggota Kelompok Kerja – GATS Depkeu-RI; 1995, 6) Anggota Pokja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN; 1995, 7) Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN; Mei – Desember 1995.

Pertanyaan-4 :Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 10,14 Miliar ?” Perjanjian itu utamanya ditandatangani oleh Presiden Soeharto, sebagai akibat salah penanganan krisis moneter th. 1997. Penandatangan LoI ke-I adalah Menkeu Mari’e Muhammad dan Gubernur BI Soedrajat Djiwandono. Sementara, sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu: 1) Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI; Mei 1995 – Juni 1998, 2) Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI; 1996-Maret 1999, 3) Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI); 1996 – 2000).

Pertanyaan-5 : “Siapakah SPG lain; Bank Dunia, IGGI, CGI, Paris Club, ADB dll saat itu ?”

» s/d th. 1996, total utang; US$ 136 Miliar (Pemerintah; US$ 54 Miliar + Swasta US$ 82 Miliar)

» 1997-2000, total utang; US$ 207 Miliar (Pemerintah; US$ 140 Miliar + Swasta; US$ 67 Miliar)

» 1% dari US$ 207 Miliar = US$ 2,07 Miliar (setara Rp 20,7 Triliun dgn kurs Rp 10.000 / US$)

Jabatan Sri Mulyani periode itu (1997-2000): 1) Sebagai nara Sumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum – Departemen Kehakiman RI; Agustus 1998-Maret 1999, 2) Kepala LPEM FEUI; Juni 1998 – Sekarang, san 3) Dewan Ekonomi Nasional; 1999 – 2001.

Pertanyaan-6 : “Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 5,3 Miliar ?”

» Ditandatangani 20 Januari 2000 (Pemerintahan alm. Gus Dur – Megawati SP)

» Penandatangan: Menko Ekuin Kwik Kian Gie, Menkeu Bambang Sudibyo, Gubernur BI Syahril Sabirin.

Alasan penandatanganan (perpanjangan kontrak kerjasama dgn IMF hingga Desember 2002) adalah: 1) Perpanjangan tersebut diperlukan karena pemerintah RI telah mengembangkan program ekonomi baru yang disusun oleh pemerintah demokratis pertama hasil pilihan parlemen, 2) Program ekonomi tersebut didesain sejalan dengan agenda reformasi ekonomi dan pembangunan yang didasarkan pada keadilan sosial dan tata pemerintahan yang baik.

Pertanyaan-7 : “Siapakah SPG-nya IMF pada saat LoI utang US$ 4,5 Miliar ?”

» Ditandatangani 13 Desember 2001 (Pemerintahan Megawati SP – Hamzah Haz)

» Penandatangan: Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menkeu Boediono dan Gubernur BI Syahril Sabirin

Alasan penandatanganan (perpanjangan kontrak kerjasama dgn IMF hingga Desember 2003) adalah: 1) Untuk menyelesaikan beberapa target yang belum terpenuhi pada Oktober dan Desember 2001, 2) Termasuk, kriteria kinerja struktural dalam kaji ulang masalah anggaran dan penuntasan masalah BLBI (Pembahasan masalah BLBI ditunda hingga akhir Maret 2002 untuk memberikan keleluasaan waktu untuk menyelesaikan isu penting dan sensitif ini yang bisa diterima oleh semua pihak, termasuk anggota DPR-RI), dan 3) Rencana perpanjangan kontrak RI-IMF ini juga telah dibahas dan disepakati dengan Panitia Anggaran DPR dalam rapat kerja pembicaraan tingkat III/pembahasan RUU-APBN tahun anggaran 2002 -pada Oktober 2001-), 4) Rencana perpanjangan kontrak RI-IMF ini juga sudah dibahas dalam Sidang Kabinet 19 November 2001

Terkait pertanyaan 6 & 7, sebagian jabatan Sri Mulyani periode itu (2000-2002): Sebagai konsultan USAid di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat; 2001-2002 – United States Agency for International Development (USAID) adalah sebuah lembaga pemerintah federal Amerika Serikat yang bersifat independen. Misinya adalah mengelola bantuan kemanusiaan dan ekonomi bagi negara-negara asing – LSM yang berminat dapat mengajukan permohonan bantuan dana dengan membuat proposal proyek sesuai dengan format yang telah ditentukan (Lengkapnya disini: http://www.lp3es.or.id/direktori/fund/usaid.htm. Seperti biasa, namanya “Produk Neolib”, ada catatan miring tentang USAID disini: Sejak Amerika dan Indonesia menandatangani kerjasama perjanjian kerja sama ekonomi pada 1950, Amerika melalui USAID telah memberikan bantuan dana sebesar US$ 80 Juta untuk bidang umum dan US$ 67 Juta untuk membantu perbaikan akibat perang di Indonesia. Akhir 1960, misi USAID di Indonesia adalah untuk membantu pemerintah mengatasi masalah perkembangan penduduk di Indoensia yang semakin meningkat http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1172&type=2

Pertanyaan-8 : “Berapakah besarnya ‘honor’ yg diterima Sri Mulyani ketika resmi tercatat sebagai ‘SPG-nya’ IMF ?”

» Sri Mulyani tercatat resmi sebagai Direktur Eksekutif IMF periode November 2002 – Oktober 2004

» Tugasnya adalah pengambil keputusan (to execute) yg menentukan berbagai program dan keputusan (action) yg harus diambil IMF (terkait 12 Negara Asia Tenggara – termasuk Indonesia)

» Hubungan antara RI-IMF periode tersebut (Nov 2002 – Okt 2004) adalah: RI memutuskan untuk tidak melanjutkan program bantuan IMF dan mengumumkan akan membayar sisa utang IMF (US$ 8,47 Miliar, yaitu sisa dari total US$ 13,26 Miliar; pencairan pasca krismon th 1997 + perpanjangannya).

Mengapa RI memutuskan untuk ‘memaksakan diri’ melunasi US$ 8,47 Miliar utang IMF pada saat itu? Alasannya, bahwa dengan tidak membutuhkan pinjaman IMF lagi, maka hubungan RI-IMF kembali normal seperti sebelum krisis (1997), namun dengan masih adanya sisa utang RI ke IMF maka RI masih tetap harus melakukan dialog pascaprogram IMF menyangkut kebijakan reformasi ekonomi. 

Pertanyaan-9 : “Berapakah besarnya ‘honor’ yg diterima Sri Mulyani ketika resmi tercatat sebagai ‘SPG-nya’ IMF (Jilid II – 2007) ?”

» th. 2007 Sri Mulyani Indrawati, ditunjuk menjadi salah satu anggota komite reformasi internal IMF

» saat itu Sri Mulyani sedang menjabat sebagai Menteri Keuangan

» setahun sebelumnya (Juni & Oktober 2006) Indonesia melunasi utang dan keluar dari “cengkeraman” IMF

» Sisi lain peran Sri Mulyani yang jarang/tidak pernah diungkap para ekonom “anti neolib” adalah:

1) Mungkin benar bahwa keberadaan IMF itu ‘menghantui’ setiap kebijakan ekonomi Indonesia => makanya RI (dgn Menkeu Pak Boed saat itu) ingin segera melunasi utang IMF dan segera keluar dari “bayang-bayang” IMF, 2) Maka pada Agustus 2003 RI “mengajukan proposal” untuk keluar dari “intervensi” IMF dengan cara memutuskan akan melunasi utangnya => secara logika, pilihan IMF adalah: 1) mempersulit “proposal pelunasan utang” tsb => agar dapat tetap “menghantui Indonesia, 2) menyetujui “proposal pelunasan utang” tsb => agar Indonesia bebas dari “cengkeraman” IMF.

Apakah keputusan yang diambil IMF terkait proposal yang diajukan oleh RI tersebut ? MENYETUJUINYA. Siapakah pejabat IMF yg berwenang atas keputusan thd Negara2 di Asia Tenggara ? SRI MULYANI

Pertanyaan selanjutnya, jika memang Sri Mulyani mendapat keuntungan (1% atas utang Indonesia dan menginginkan perekonomian Indonesia tetap dalam cengkeraman IMF), kenapa keputusan yang diambilnya (menyetujui program pelunasan utang RI ke IMF) malah merugikan / tidak sejalan dengan kepentingan pribadinya itu ? TOLONG DIJAWAB DENGAN LOGIKA & AKAL SEHAT! 

Persamaan dan Perbedaan antara “ekonom neolib” (sample: Boediono & Sri Mulyani) VS “ekonom anti neolib” (sample: Kwik Kian Gie & Rizal Ramli). Persamaannya, ketika menjabat sebagai Menkeu / Menko Ekonomi, keempatnya sama-sama menandatangani perjanjian dengan pihak Bank Dunia, IMF, dan “lembaga neolib” lainnya.

Perbedaannya, yang paling nyata adalah: Kwik Kian Gie & Rizal Ramli sering meneriakkan “anti IMF”, “tolak IMF”, “hindari IMF” (sambil menandatangani perjanjian utang antara RI-IMF, bahkan mengajuan proposal utang baru).

Boediono tidak pernah meneriakkan yel-yel anti IMF tersebut, bahkan dituding sebagai biangnya IMF (tapi masa beliau sebagai Menkeu, keputusan untuk tidak melanjutkan program dengan IMF dibuat).

Demikian juga SMI  tidak pernah meneriakkan yel-yel tersebut, bahkan dituding sebagai biangnya IMF (tapi masa beliau sebagai Menkeu, pelunasan utang IMF dipercepat–dari jadwal 2010 menjadi 2006-). Pertanyaannya: kita lebih pilih percaya mana ? SEBATAS KALIMAT RETORIKA atau SEBUAH KARYA NYATA ?

Refleksi

Kesimpulan sementara: Sulit untuk menemukan “kebersamaan” antara proses “negosiasi” pinjaman (penandatanganan LoI) yang bertepatan dengan jabatan / posisi Sri Mulyani di IMF. Yang ada justru “kebetulan” tepatnya waktu ketika proses keputusan penghentian program IMF (saat Sri Mulyani sebagai pengambil keputusan di IMF) dan proses pelunasan utang IMF (saat Sri Mulyani menjabat sebagai Menkeu). Sumber: Suara Rakyat pada 31 Desember 2010 jam 8:39.

Chris Lowney adalah seorang yang menggunakan arti “kepahlawanan” dalam arti luas. Dalam buku Heroic Leadership (2005), ditulisnya bahwa ciri kepemimpinan heroic ialah keberanian untuk senantiasa melakukan mawas diri, kemampuan merasa nyaman di dunia yang selalu berubah, memiliki cinta kasih untuk mengakui bakat terpendam pada setiap orang yang dijumpai, memotivasi tiap orang untuk mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki secara maksimal. Dengan kata lain, pemimpin yang demikian (heroic), lebih memperhatikan kebebasan, kesetaraan dan kesejahteraan orang-orang lain ketimbang mendahulukan kepentingan pribadinya.

—————————————————-

St. Hill, 18 Agustus 2011

* Albert Kusen adalah seorang dosen. Sejak 2006 sampai sekarang mengajar di Fakultas Keperawatan Unika De La Salle, Manado.